Pentingnya Attitude
PENTINGNYA MENJAGA ATTITUDE SEBAGAI SIKAP MENTAL BAGI AIKIDO-KA
Attitude secara harfiah berarti sikap, perilaku, atau tingkah laku seseorang dalam melakukan interaksi dengan orang atau objek lain yang disertai dengan kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan sikap tersebut. Pada dasarnya, dalam menjalani kehidupan sosialnya setiap orang mempunyai tiga modal dasar yaitu: keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge), dan sikap (attitude) yang harus terus menerus dikembangkan.
Keterampilan dan pengetahuan merupakan komponen yang dapat dipelajari dan dikembangkan dengan banyak cara, diantaranya membaca, belajar kepada yang lebih ahli serta dengan latihan-latihan yang dilakukan secara komprehensif. Sedangkan attitude merupakan komponen yang paling penting dalam membentuk karakter seseorang.
Attitude didapat atau dipelajari dengan melakukan pembelajaran dari seseorang yang memiliki attitude yang baik di tiap generasi dan ditiap level pendidikan sekolah. Kebutuhan “ilmu” attitude ini sangat diperlukan, sebelum menguasai skill dan knowledge. Attitude yang ditunjukan oleh seorang Aikido-ka dapat mencerminkan bagaimana dia menghadapi suatu keadaan atau permasalahan tertentu. Berdasarkan penelusuran dari beberapa sumber, setidaknya ada tiga aspek pokok dalam attitude, yakni :
Aspek Kognitif, yaitu aspek yang berhubungan dengan gejala yang mengenai pikiran yang merupakan pengolahan, pengalaman dan keyakinan serta harapan-harapan seseorang tentang obyek atau sekelompok obyek.
Aspek Afektif, yaitu aspek yang merupakan suatu proses yang menyangkut perasaan-perasaan tertentu seperti cinta, marah, sedih, bahagia, takut, dengki, simpati, dan sebagainya yang ditujukan pada obyek-obyek tertentu dan menentukan seseorang dalam bertindak karena adanya kemauan atau kerelaan bertindak sesuai dengan karakter sikap yang dimilikinya. Ini juga sering dikaitkan dengan kesiapan mental seseorang yang dapat mempengaruhi serta menentukan kegiatannya dalam merespons objek atau situasi.
Aspek Konatif, yaitu suatu aspek yang berwujud suatu proses tendensi atau kecenderungan untuk berbuat sesuatu pada obyek.
Ketiga aspek diatas dapat dilihat dari “waza” didalam aikido, "Waza" disini dapat dianalogikan sebagai sikap seseorang terhadap objek atau individu lainnya sebagai karakter yang terbentuk dari proses latihan. Hal ini bisa terjadi karena Aikido lebih memperhatikan hal-hal yang bersifat mental dibandingkan dengan seni lainnya. Dalam ilmu kedokteran, ini juga dikenal dengan istilah "muscle memory".

Menurut Koichi Tohei tindakan dari gerakan sadar bersifat lambat, sementara gerakan bawah sadar sangatlah cepat seperti halnya seseorang yang terbiasa dengan kecepatan suara dihadapkan dengan kecepatan supersonic. Di Aikido, setiap siswa akan selalu belajar mengoordinasikan penggunaan pikiran dan tubuh, untuk itu tidak cukup memahami Aikido dengan pikiran sadar saja. Proses latihan ini harus dilanjutkan ke titik di mana setiap bagian tertanam ke dalam pikiran bawah sadar kita. Jika gerakan dilakukan secara berulang-ulang, maka gerakan sadar akan menjadi gerakan bawah sadar dan akan dinyatakan sebagai tindakan refleks ketika saatnya tiba untuk menggunakannya. Keterbukaan pikiran sangat diperlukan dalam mempelajari Aikido. Jika pikiran kita dipenuhi dengan praduga dan materi pikiran yang tidak benar, pikiran itu tidak akan mampu menerima pemikiran baru, tidak peduli seberapa tinggi ide tersebut.
Jika kita ingin memiliki pikiran yang positif, pertama-tama kita perlu mengubah materi yang membentuk pikiran kita, alam bawah sadar kita, dan berusaha untuk menjadikan pemikiran kita positif. Orang yang cepat marah memiliki pikiran bawah sadar yang penuh dengan materi yang akan membuatnya marah. Jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, materi ini melompat ke depan, mengalahkan segala upaya dari pikiran sadar untuk menekan atau mengendalikannya. Jika seseorang ingin tidak marah, ia harus mengubah isi pikiran bawah sadarnya. Ini dapat dilakukan jika seseorang melakukannya dengan cerdas dan terarah.